Ragam Flora di Zona 1

21 07 2009

Zona 1 di areal revegetasi Pomalaa Project ditambang pada tahun 2006 dan setelah itu proses rehabilitasi mulai dilakukan dengan beberapa fase hingga saat ini. Tentunya bukan pekerjaan yang mudah, tetapi dengan kerja keras dan perencanaan yang baik dari seluruh tim, lahan yang sudah ditambang ini dapat kembali hijau.

Zona 1

Beragam jenis tumbuhan ditanam di areal ini mulai dari Sengon (Enterolobium macrocarpum), Johar (Cassia siamea), Bitti (Vitex SP), Kuku (Phericopsis moniana), Tirotasi (Melaleuca caju puti), Jati (Taectona grandis), Balik Angin (Trema SP) dan Uru (Elmerillia SP).

Pohon

Selain itu disebar juga LCC (Legume Cover Crop) atau tanaman penutup seperti Bermuda (Cynodon dactilon), WF millet (Panicum miliaceum), Burgundy (Macroptilium bracteatum), Wynn cassia (Chamaecrista rotundifolia), Centrosema (Centrosema SP), Orok-Orok (Clotalaria SP).

Slide 16

ynodon dactylon
Advertisements




Nirwana Forest, Kembali Hijau

14 07 2009

Program Revegetasi pada lahan Pasca Tambang di Pomalaa Project secara nyata dapat dilihat di Zona 3 dimana lahan yang dulunya ditambang dan menghasilkan bijih nickel selanjutnya kembali ditanami dengan berbagai jenis pohon sehingga kembali hijau seperti sedia kala.

Zona3Gambar di atas memperlihatkan fase-fase perubahan setelah ditambang kemudian mulai dihijaukan dengan proses reshaping, selanjutnya penanaman pohon pioneer dan cover crop kemudian penanaman pohon primer dan tahapan yang tidak kalah pentingnya dan masih berlanjut sampai sekarang adalah fase pemeliharaan.

Harapannya ke depan seluruh areal yang telah dihijaukan dapat kembali menjadi hutan alami yang ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon dan semak belukar serta menjadi hunian yang nyaman bagi berbagai jenis binatang hutan seperti ayam hutan, biawak, ular, kera, berbagai jenis burung dan lain-lain. Hal ini mulai terlihat di Zona 3 (Nirwana Forest), setiap kita masuk kesana akan disambut dengan kicauan burung yang bersahutan.





DAM Emea, Surga bagi Kawanan Belibis

9 07 2009

Dam EmeaDAM Emea di areal revegetasi pasca tambang Pomalaa Project merupakan danau buatan yang digunakan untuk menampung material-material sedimen yang terbawa oleh air sungai. Tujuannya untuk memfilter agar material-material terlarut dalam air dapat mengendap di sediment pond sehingga air yang mengalir ke sungai tetap jernih dan bersih.

Pada areal DAM Emea yang disekelilingnya telah dihijaukan ternyata telah berubah menjadi tempat beraktifitas kawanan burung Belibis (Dendrocygna javanica) atau dikenal juga dengan sebutan Lesser Whistling Duck atau Indian Whistling Duck. Mereka biasanya berkumpul di permukaan DAM untuk berenang sekaligus mencari makanan. Terlebih lagi setelah di DAM Emea ditebar bibit-bibit ikan lele di danau buatan tersebut. Dengan santainya mereka berenang di permukaan DAM yang tenang dan baru bergerak menghindar jika merasakan kehadiran bahaya seperti kedatangan biawak yang juga banyak terdapat di areal Pomalaa Project.

belibis2

Kawanan Belibis di tengah DAM Emea





Kompos Ayam… Dari Tanah Kembali Ke Tanah

9 07 2009

Kompos Ayam

Kompos atau humus adalah sisa-sisa mahluk hidup yang telah mengalami pelapukan, bentuknya sudah berubah seperti tanah dan tidak berbau. Kompos memiliki kandungan hara NPK yang lengkap meskipun persentasenya kecil. Kompos juga mengandung senyawa-senyawa lain yang sangat bermanfaat bagi tanaman. Kompos ibarat multivitamin bagi tanah dan tanaman. Kompos memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kompos akan mengembalikan kesuburan tanah. Tanah keras akan menjadi lebih gembur. Tanah miskin akan menjadi subur. Tanah masam akan menjadi lebih netral. Tanaman yang diberi kompos tumbuh lebih subur dan kualitas panennya lebih baik daripada tanaman tanpa kompos.

Tanaman tidak dapat menyerap hara dari bahan organik yang masih mentah, apapun bentuk dan asalnya. Kotoran ternak yang masih segar tidak bisa diserap haranya oleh tanaman. Apalagi sisa tanaman yang masih segar bugar juga tidak dapat diserap haranya oleh tanaman. Kompos yang ‘setengah matang’ juga tidak baik untuk tanaman. Bahan organik harus dikomposkan sampai ‘matang’ agar bisa diserap haranya oleh tanaman. Prinsipnya adalah tanaman menyerap hara dari tanah, oleh karena itu harus dikembalikan menjadi tanah dan diberikan ke tanah lagi. Read the rest of this entry »





Centrosema pubescens, Purple Butterfly

4 07 2009

DSC02257Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan pepohonan dalam area revegetasi adalah pemilihan tanaman penutup (coper crop) yang sesuai dengan kondisi lahan yang ada. Tanaman penutup tanah biasanya adalah jenis kacangkacangan antara lain Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides, Puerarai javanica atau Pologonium caeruleum (buku Teknik Budidaya Tanaman).

Centrosema pubescens atau biasa disebut Sentro berasal dari Amerika Tengah dan Selatan. Tanaman ini merupakan salah satu dari jenis legum yang paling luas penyebarannya di kawasan tropis lembab. Sentro diintroduksi ke kawasan Asia Tenggara dari kawasan tropis Amerika di abad ke 19 atau lebih awal. Bentuk bunganya yang seperti kupu-kupu sangat cantik dan khas dengan warnanya yang ungu terang.

DSC02259

Padang Centrosema

Read the rest of this entry »





Orok-orok (Clotalaria mucronata)

2 07 2009

Orok-orok jika di search di google, maka akan memunculkan link ke Wikipedia yang membahas salah satu jenis ular berbisa yang banyak ditemui di Amerika Utara. Namun yang dibahas disini bukanlah ular akan tetapi sejenis tanaman.

Crotalaria mucronata 2Orok-orok atau dengan nama latinnya Clotalaria mucronata merupakan salah satu jenis tanaman yang dikembangkan di areal revegetasi lahan pasca tambang Pomalaa Project.

Benih dari orok-orok ini disebar di areal yang akan dihijaukan dengan harapan dapat tumbuh sebagai tanaman penutup (cover crop) areal yang terbuka. Selain itu tanaman Clotalaria sp ini memiliki kemampuan untuk mendetoksifikasi kandungan logam berat pada tanah.

Orok2Pengembangan orok-orok ini cukup sukses dengan dihasilkannya biji orok-orok dari hasil produksi benih yang disebar sebelumnya sehingga dapat terus dikembangkan secara continue dan tidak perlu lagi mendatangkan benih orok-orok dari luar.

Produksi biji yang sudah dihasilkan dikemas dalam kantong plastik ukuran sekitar 2 kg untuk memudahkan pada saat akan dipergunakan kembali dengan pemakaian 2 – 3 kg setiap satu hektare lahan penghijauan.